penyakit yang bisa menyerang hewan peliharaan akibat kandang dan lingkungan yang kotor

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp
Email

Table of Contents

1) Jamur 

Salah satu penyakit yang sangat berisiko dialami hewan peliharaan akibat kondisi kandang maupun litter box yang jarang dibersihkan adalah ringworm. Penyakit ini dikenal juga sebagai infeksi jamur yang menyerang kulit, bulu, hingga kuku kucing.

2) Kutu Kucing (Ctenocephalides Felis)

Hama kutu tidak diragukan lagi sudah menjadi musuh terburuk bagi setiap pemilik hewan peliharaan. Kutu kucing (Ctenocephalides felis) adalah salah satu parasit eksternal dan merupakan jenis kutu hewan yang biasa ditemukan pada kucing.

3) Tungau Telinga Kucing (Otodectes Cynotis)

Tungau telinga kucing, atau dikenal sebagai Otodectes cynotis adalah tungau telinga yang umum dialami kucing. Parasit ini menyukai kulit saluran kecil telinga kucing yang lembap dan hangat, bahkan menjalani sebagian besar siklus kehidupannya di sana. 

Parasit telinga kucing ini memakan sel-sel kulit, darah, dan kotoran telinga. Perlu diwaspadai bahwa tungau ini menular. Jadi, jika kamu memiliki beberapa kucing, dan salah satunya terinfeksi tungau telinga, maka kucing lainnya kemungkinan besar juga tertular tungau. Jika jumlah tungau terlalu banyak hingga menyebabkan gatal, kucing akan sering menggaruk hingga menyebabkan infeksi atau merusak telinganya secara permanen. 

4) Scabies

Seluruh tungau penyebab scabies disebarkan melalui kontak langsung. Tungau penyebab scabies ini bersifat sangat menular (mudah menyebarkan scabies kepada hewan lain atau manusia).  Sebagian tungau dapat bertahan hidup selama beberapa hari di tubuh hewan sehingga ini dapat menjadi sumber infestasi.

Gejala scabies mirip dengan kutu, seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, rambut rontok, kulit kering, bengkak, dan tingkah menggaruk diri berlebihan pada kucing. Upaya kucing yang ingin menghentikan rasa gatal ini akan memperburuk masalah iritasi kulit. Selain itu juga timbul gejala kegelisahan, cepat marah, dan nyeri karena peradangan.

5) Cacing Pita (Dipylidium)

Tubuh kucing dapat kemasukan cacing pita (dipylidium). Kucing bisa terinfeksi cacing dipylidium ketika mereka tak sengaja menelan kutu atau larva yang ada pada tubuhnya. Setelah tertelan, kutu ini akan berkembang menjadi cacing dipylidium yang nantinya akan menginfeksi hewan tersebut.

6) Campylobacteriosis

Campylobacter adalah bakteri yang dapat membuat hewan mengalami penyakit campylobacteriosis. Penyakit ini tersebar apabila bersentuhan dengan kotoran hewan yang terinfeksi atau dengan mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Kucing yang terinfeksi kadang tampak sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi Campylobacter. Terkadang mengalami diare yang mungkin berdarah.

7) Canine Parvovirus (CPV)

Seekor anjing dapat terinfeksi virus parvo setelah bersentuhan, mencium, atau memakan dengan partikel mikroskopis virus dari kotoran anjing yang terkontaminasi. Virus memasuki sistem tubuh anjing melalui mulut atau hidung. Kemudian, dibutuhkan sekitar tiga hingga tujuh hari hingga penyakit menjadi aktif di dalam tubuh.

Dalam beberapa hari, virus akan ditemukan di kotoran anjing yang sakit. Pada titik inilah hal itu dapat memengaruhi anjing lain. Gejala umumnya tidak muncul lagi selama beberapa hari. Virus terus berada di kotoran selama anjing sakit dan beberapa minggu setelah sembuh.

Partikel virus parvo juga dapat hidup di tanah atau lingkungan luar ruangan lainnya selama lima hingga tujuh bulan dan bahkan lebih lama di iklim dingin, karena virus dapat bertahan pada suhu beku. Jika partikel tersebut mengenai kaki atau bulu anjing dan kemudian tertelan, anjing tersebut dapat terinfeksi.

8) Feline Parvovirus (FPV)

Feline parvovirus (FPV) dapat ditularkan ke kucing lain saat bersentuhan dengan darah, kotoran, urine, atau cairan tubuh lainnya yang terinfeksi. Virus ini juga dapat menetap di banyak permukaan benda. Selain itu, anak kucing dapat tertular penyakit ini dalam kandungan atau melalui ASI jika ibu hamil atau menyusui terinfeksi. Kandang yang jarang dibersihkan bisa menimbulkan bakteri dan kutu. Saat kucing kamu tidur di kandang, bukannya tak mungkin kutu itu hinggap di bulu kucing.

9) Feline Herpes (FVR)

Feline Herpes (FVR) Feline herpes atau feline viral rhinopneumonitis (FVR) adalah virus yang paling sering terjadi pada kucing selama hidup. Ini juga merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran pernapasan atas pada kucing.

Feline calicivirus sangat menular dan ditularkan dari kucing yang terinfeksi ke kucing lain melalui sekresi tubuh, biasanya air liur, atau cairan mata dan hidung, yang mengenai udara saat bersin. Ini juga diduga menyebar melalui kontak dengan urin dan feses. Virus ini dapat hidup di benda-benda seperti mainan, mangkuk makan, dan tempat tidur hingga seminggu.

10) Feline Calicivirus

Feline calicivirus sangat menular dan ditularkan dari kucing yang terinfeksi ke kucing lain melalui sekresi tubuh, biasanya air liur, atau cairan mata dan hidung, yang mengenai udara saat bersin. Ini juga diduga menyebar melalui kontak dengan urin dan feses. Virus ini dapat hidup di benda-benda seperti mainan, mangkuk makan, dan tempat tidur hingga seminggu.

Artikel Lainnya